Saturday, October 9, 2010

STUDI KASUS

STUDI KASUS PELAKSANAAN KELOMPOK KERJA GURU (KKG)


Pendahuluan

Peningkatan mutu pendidikan khususnya di Sekolah Dasar merupakan fokus perhatian dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini karena Sekolah Dasar merupakan satuan pendidikan formal pertama yang mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar.

Pada kenyataannya pendidikan bukanlah suatu upaya yang sederhana, melainkan suatu kegiatan yang dinamis dan penuh tantangan. Pendidikan akan selalu berubah seiring dengan perubahan zaman, setiap saat pendidikan selalu menjadi fokus perhatian dan bahkan tak jarang menjadi sasaran ketidakpuasan karena pendidikan menyangkut kepentingan semua orang, bukan hanya menyangkut investasi dan kondisi kehidupan di masa yang akan datang, melainkan juga menyangkut kondisi dan suasana kehidupan saat ini. Itulah sebabnya, pendidikan senantiasa memerlukan upaya perbaikkan dan peningkatan sejalan dengan semakin tingginya kebutuhan dan tuntutan kehidupan masyarakat .

Oleh karena itu, perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan melalui strategi Sistem Pembinaan Profesional dijabarkan dalam pelaksanaannya di lapangan dengan membentuk gugus sekolah yang terdiri dari satu sekolah sebagai SD Inti dan SD lainnya sebagai SD Imbas, sehingga satu gugus sekolah paling banyak terdiri dari 8 SD. Pada SD Inti dibentuk Pusat Kegiatan Guru (PKG). Di dalam PKG tersebut dilakukan kegiatan berupa Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), dan Kelompok Kerja Penilik Sekolah (KKPS). Kelompok Kerja ini berfungsi sebagai wadah peningkatan mutu profesional guru dan tenaga kependidikan.

Keberadaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) dalam Sistem Pembinaan Profesional khususnya di lingkungan Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal, secara organisatoris telah ada dan berfungsi. Namun terkadang, sistem pelaksanaannya kurang efektif sehingga tujuan yang diharapkan tidak dapat tercapai secara optimal.

Kegiatan KKG yang lazim diadakan tiap hari Sabtu ternyata belum sesuai dengan harapan bagi sementara guru yang menganggap bahwa kegiatan KKG hanya merupakan serangkaian kegiatan klasik, dari "datang, duduk, dengar, makan, canda dan pulang" tanpa membawa hasil. Bahkan ada kecenderungan, para guru yang mengikuti KKG dilandasi rasa "terpaksa" lantaran "takut" dengan Kepala Sekolah atau Pengawas, bukan dilandasi motivasi yang tinggi akan pentingnya wawasan dan pengetahuan guna meningkatkan kompetensi.

Berdasarkan kerangka berpikir seperti di atas, maka persoalan dasar yang hendak dipecahkan melalui penelitian ini adalah: Bagaimana pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) di Gugus Inti I Cabang Dinas P dan K Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal?

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui ruang lingkup kegiatan KKG, (2) memperoleh gambaran yang mendalam tentang proses pembelajaran dalam KKG sebagai upaya peningkatan kompetensi guru, (3) mengetahui gambaran kedisiplinan guru dalam mengikuti KKG, (4) memperoleh gambaran yang detail tentang kemampuan para tutor/pemandu KKG dalam menyampaikan materi, dan (5) memperoleh gambaran mengenai interaksi yang terjadi dalam pelaksanaan KKG.

Manfaat yang bisa dipetik dari pelaksanaan penelitian ini adalah: (1) manfaat teoretis, meliputi: diperoleh gambaran mengenai ruang lingkup kegiatan KKG, proses pembelajara, berbagai kondisi kultural-psikologis yang mendasari kedisiplinan guru, kemampuan tutor/pemandu dalam menyampaikan materi, dan interaksi yang terjadi dalam pelaksanaan KKG, (2) manfaat praktis, sebagai bahan masukan yang penting bagi penyelenggara pendidikan, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi dalam pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG).

Landasan Teoretis

mengatakan bahwa kemampuan profesional guru (professional capacity) terdiri dari kemampuan intelegensi, sikap, dan prestasinya dalam bekerja. Dalam berbagai penelitian, kemampuan profesional guru sering ditunjukkan dengan tinggi rendahnya hasil pengukuran kemampuan menguasai materi pelajaran yang diajarkan. Secara sederhana, kemampuan profesional ini bisa ditunjukkan dengan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkan termasuk upaya untuk selalu memperkaya dan meremajakan pengetahuan tersebut. Salah satu upayanya, dapat melalui kegiatan dalam Kelompok Kerja Guru (KKG).

Keberadaan kegiatan KKG sebetulnya merupakan bagian yang integral dari perwujudan Sistem Pembinaan Profesional, yang didalamnya terdapat serangkaian kegiatan peningkatan mutu pendidikan, kemampuan profesional guru, mutu proses belajar mengajar serta hasil belajar dengan mendayagunakan segala sumber daya dan potensi yang dimiliki oleh sekolah, tenaga kependidikan dan masyarakat sekitarnya.

Depdikbud dalam bukunya Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah menyatakan KKG berfungsi: (1) menyusun kegiatan KKG satu tahun dibimbing pengawas, Tutor dan guru pemandu; (2) Menampung dan memecahkan masalah yang dihadapi guru dalam kegiatan belajar-mengajat melalui pertemuan, diskusi, contoh mengajar, demonstrasi penggunaan dan pembuatan alat peraga. Sedangkan tujuan dari KKG adalah membantu meningkatkan kemampuan guru secara profesional dalam melaksanakan tugasnya yaitu keberhasilan kegiatan belajar-mengajar (Depdikbud 1995/1996:17-21).

Secara esensial, kegiatan KKG mengarah ke penguasaan kompetensi yang harus di kuasai guru. Menurut Raka Joni (1980) kompetensi guru meliputi kompetensi profesional, personal dan kemasyarakatan.

Atas dasar rujukan kompetensi di atas, maka guru harus meyakini bahwa proses pembelajaran dalam KKG dapat bermanfaat untuk meningkatkan penguasaan kompetensi yang dimiliki. Dengan demikian, pelaksanaan KKG di tingkat gugus sekolah harus mampu memberikan peluang dan tantangan kepada guru terhadap penguasaan kompetensi.

Dalam terminologi umum, kedisiplinan guru dalam mengikuti KKG dapat merujuk pada kode etik guru yang merupakan pedoman guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan kode etik guru. Kedisiplinan yang diharapkan dalam kegiatan KKG sangat dekat dengan kode etik yang ke-6 yaitu guru secara mandiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.

Kegiatan tutorial dilaksanakan berpijak pada gagasan pokok bagaimana caranya agar kegiatan KKG dapat berjalan secara terus menerus, tanpa menunggu pembinaan hirarkis dari "atas". Dalam kegiatan KKG, peran tutor sangat menentukan di dalam proses pembelajaran. Hal ini karena seorang tutor merupakan tenaga guru potensial yang bertugas secara penuh memberikan bantuan profesional kepada teman-teman sejawat (guru).

Dinamis tidaknya pelaksanaan KKG sudah barang tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Satu di antaranya adalah interaksi yang terjadi dalam pelaksanaan KKG, baik interaksi antara guru dengan guru peserta KKG, tutor dengan guru, dan tutor dengan tutor. Dalam konteks yang lebih aplikatif, tutor berperan sebagai "guru" sedangkan guru peserta KKG berperan sebagai "siswa".

Kegiatan KKG merupakan kegiatan yang sudah diprogramkan dari pembuat keputusan, dalam hal ini pemerintah. Secara kontekstual dapat dikatakan bahwa pemerintah mengharapkan kegiatan KKG harus dijalankan sebagai upaya peningkatan kompetensi guru. Karakteristik yang perlu dikembangkan di setiap daerah perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi sehingga kegiatan KKG dapat bermanfaat bagi guru, yakni munculnya perilaku inovatif dalam proses belajar-mengajar setelah mengikuti KKG.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Artinya, permasalaan yang dibahas dalam penelitian ini tidak berkenaan dengan angka-angka dan bertujuan untuk menggambarkan serta menguraikan keadaan atau fenomena tentang pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG).

Dalam penelitian ini ditentukan 4 orang subjek penelitian yang berhubungan dengan pelaksanaan KKG, yaitu seorang guru senior, seorang guru yunior (muda), seorang kepala sekolah, dan seorang guru yang bertugas sebagai pemandu/tutor dalam pelaksanaan KKG.

Pengumpulan data dilakukan berulang-ulang dalam beberapa tahap berdasarkan perkembangan yang muncul sehubungan dengan jawaban-jawaban atas suatu pertanyaan. Observasi dan wawancara merupakan dua teknik pengumpulan data yang digunakan sekaligus. Sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang beberapa hasil yang pernah dicapai guru dan situasi pelaksanaan KKG.

Keabsahan data merupakan persoalan yang cukup signifikan dalam penelitian kualitatif. Oleh karena itu, pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi (triangulation), pengecekan dengan teman sejawat (peer debriefing), analisis terhadap kasus-kasus negatif (negative case analysis), penggunaan referensi yang akurat (referential adequacy), pengecekan anggota (member cheking) dan keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang (prolonged engagement).


Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Ruang Lingkup Kegiatan KKG

Secara substansi, program kegiatan KKG di Gugus Inti I, sudah sesuai dengan harapan guru. Program kegiatan sudah disusun menurut kelas dan tingkat permasalahan yang muncul di lapangan sesuai dengan bidang studi masing-masing. Oleh karena itu, di Gugus Inti I selain ada KKG untuk guru kelas (I-VI), juga ada KKG untuk guru Agama (KKGA) dan guru Olah Raga (KKGO).

Seorang Kepala Sekolah yang kebetulan menjadi Ketua Gugus Inti I, mengungkapkan bahwa penyusunan program kegiatan KKG dilakukan bersama-sama dengan pengurus KKG. Hal ini sesuai dengan anjuran dari pihak Depdiknas bahwa tiap-tiap Gugus Inti, perlu membuat proposal kegiatan tentang program kegiatan yang akan dilakukan Gugus Sekolah dalam satu tahun pelajaran.

Secara ideal, dalam sebuah program memang harus tepat waktu dalam penyelesaiannya sehingga tidak menghambat pencapaian program yang lain. Namun demikian, program kegiatan yang bersifat insidental (dari UNNES atau lainnya) sangat membantu guru dalam mengatasi kejenuhan pelaksanaan Kelompok Kerja Guru. Artinya, kebiasaan KKG yang monoton, dengan suasana pasif dan kurangnya kemampuan tutor dalam mengelola kelas, akan menjadi lain ketika suasana KKG berbeda dengan biasanya.

Pernyataan subjek penelitian di atas mengenai penyusunan program KKG, ditanggapi oleh seorang Pengawas Sekolah yang rajin mengikuti jalannya KKG di beberapa Gugus Inti.

2. Proses Pembelajaran dalam KKG

Dalam konteks yang aplikatif, guru harus mampu memaknai kegiatan KKG sebagai sebuah proses pembelajaran. Dalam pengertian dalam kegiatan KKG terjadi proses belajar, di mana terdapat "guru" dan "siswa". Guru diibaratkan adalah pemandu/tutor, sedangkan siswa diibaratkan guru lain yang menjadi pendengar dan pemerhati dalam kegiatan KKG.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, dibarengi dengan inovasi bidang kurikulum menjadikan kegiatan KKG sebagai suatu proses yang sepertinya "wajib" diikuti guru. Perubahan-perubahan mendasar bidang kurikulum dan berbagai kebijakan pemerintah sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, menjadi wahana sosialisasi yang tepat melalui program KKG. Seorang guru senior, yang menjadi subjek penelitian kedua menanggapi positif adanya kegiatan KKG.

Suasana pasif memang terasa sekali dalam kegiatan KKG. Proses pembelajaran yang interaktif nyaris tidak pernah ada. Kegiatan monoton, dari "datang, duduk, dengar, canda, makan dan pulang" agaknya masih menghiasi suasana pertemuan dalam KKG yang dilaksanakan setiap hari Sabtu. Walaupun terkadang muncul pertanyaan dari guru dalam kegiatan KKG namun masih sebatas guru-guru yang boleh dikategorikan muda, di mana rasa ingin tahu dan semangatnya masih tinggi.

Sebagian besar, guru-guru yang sudah tua (berusia 45 tahun ke atas) hanya sebagai pendengar yang baik. Mereka memilih diam karena mereka menyadari bahwa sudah tidak mampu untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Ada semacam kecenderungan di hati mereka, bahwa guru-guru muda yang harus aktif dalam KKG. Seorang kepala sekolah yang peneliti tanya tentang kepasifan peserta KKG yang dari golongan tua menjawab:

Kepasifan proses pembelajaran dalam KKG, juga dirasakan oleh bu Guru yang tergolong masih muda ini. Menurutnya, KKG identik dengan belajar bersama secara kelompok. Kecenderungan suasana pasif dalam pelaksanaan KKG bisa diantisipasi dengan serangkaian kegiatan yang sifatnya bersama. Seperti, variasi pelaksanaan KKG dengan metode dan media pembelajaran.

3. Kedisiplinan Guru

Menurut pengamatan peneliti, jadwal dimulainya KKG belum dapat dilaksanakan tepat waktu. Namun demikian, ada hal menarik yang peneliti lihat selama proses kedatangan para guru dari SD Imbas. Mereka yang kebetulan mendapat tugas menyiapkan konsumsi pelaksanaan KKG, kerap kali datang lebih awal daripada guru lainnya. Hal ini karena, mereka harus menyiapkan dan mengemas makanan yang akan dijadikan konsumsi.

Hal yang lebih menarik lagi, adalah kedatangan para guru yang tidak pernah serempak atau mendekati bersama. Hasil pengamatan peneliti selama lima bulan, belum menunjukkan tingkat kedisiplinan tinggi dari para guru. Rata-rata para guru, hadir pukul 10.30 atau setengah jam lebih lambat dari jadwal yang ditetapkan. Ketika hal tersebut peneliti tanyakan kepada Kepala SD Inti, beliau menjawab:

Seorang guru yang sudah lama mengajar dan kebetulan mengajar di SDN 01 Sarirejo yang merupakan SD Inti, menanggapi kedisiplinan dari sudut kebersaman dan kekeluargaan.

4. Kegiatan Tutorial

Menurut pengamatan peneliti yang ikut terjun dalam kegiatan KKG secara langsung, kegiatan tutorial yang ditandai penyampaian materi kepada peserta KKG belum menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Artinya, ada satu titik lemah bagi para pemandu yang dalam melaksanakan tugasnya cenderung monoton. Mereka datang dengan materi yang siap disajikan tanpa mengemas dengan variasi metode dan pemanfaatan media. Observasi peneliti, didukung oleh pendapat seorang guru yang masih tergolong yunior karena baru bertugas menjadi guru tujuh tahun yang lalu.

Dalam hitungan jam yang saya pakai, mereka sudah lima belas menit mempersiapkan OHP yang akan digunakan untuk kegiatan KKG. Akan tetapi, belum juga berhasil. OHP sudah menyala, tetapi arah sinarnya tidak bisa mencapai layar. Berulang kali, mereka mencoba memasangkan transparan ke kaca OHP, namun sinar OHP tidak mampu menayangkan tulisan ke layar.

5. Interaksi dalam KKG

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan diperoleh keterangan bahwa interaksi pelaksanaan KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaliwungu berlangsung secara searah, dua arah/banyak arah. Interaksi searah kerap kali terjadi ketika para tutor hanya mengandalkan kemampuan penguasaan materi saja. Sedangkan interaksi dua arah/banyak arah, antara guru dengan guru peserta KKG, dan guru dengan tutor terjadi ketika ada permasalahan yang mengemuka namun belum ditemukan jawabannya secara pasti. Kondisi demikian juga mengharuskan ada interaksi antara tutor dengan tutor yang lain untuk memecahkan permasalahanm tersebut. Menjawab pertanyaan peneliti mengenai proses interaksi dalam pelaksanaan KKG, subjek penelitian ini menjawab: "Kalau interaksi dalam KKG di sini boleh dikatakan belum optimal. Bahkan sering tidak ada interaksi antara tutor dengan guru. Saya sendiri sebagai tutor kadang merasakan proses interaksi hanya berpusat pada tutor." (R-4).

Kekurangmampuan tutor dalam mengelola interaksi seperti dikatakan subjek penelitian di atas tergantung banyak hal. Setidaknya menurut subjek penelitian ini, interaksi dalam kegiatan KKG tergantung beberapa hal, di antaranya bagaimana seorang tutor mampu memberikan rangsangan kepada guru peserta KKG.

Ketika peneliti tanyakan kepada Ketua KKKS tentang interaksi pelaksanaan KKG, beliau membenarkan apa yang dikatatan subjek penelitian di atas. Menurutnya, dalam sebuah interaksi pasti terdapat dua kebutuhan yang saling melengkapi, yaitu rangsangan dan tanggapan. Semakin banyak rangsangan, sudah pasti akan banyak pula tanggapan yang muncul.

Jika dikaitkan secara integratif, permasalahan yang ditelaah dalam pelaksanaan KKG ada kaitannya. Ibarat sebuah system, permasalahan tersebut saling melengkapi, dan muncul dari berbagai sudut kegiatan, yang muaranya pada kondisi objektif di lapangan. Secara argumentatif logis, bahwa pelaksanaan KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kaliwungu masih menimbulkan berbagai permasalahan yang krusial, baik permasalahan dalam penyusunan program, proses pembelajaran, kedisiplinan, kemampuan tutor dan interaksi dalam pelaksanaan KKG.

Secara analisis teori, pelaksanaan KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Kaliwungu, juga masih menimbulkan berbagai fenomena permasalahan yang berhubungan dengan keoptimalan pencapaian tujuan pelaksanaan KKG, sebagai wahana mengembangkan kompetensi guru, baik kompetensi personal, profesional, dan kemasyarakatan.

Kesimpulan
1. Secara substansi, ruang lingkup kegiatan KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas P dan K Kecamatan Kaliwungu, membahas proses belajar-mengajar yang dilakukan guru. Pada tataran formal, program kegiatan KKG sudah disusun secara sistematis, namun dalam implementasinya belum maksimal. Hal ini karena mekanisme penyusunan program KKG hanya dilakukan oleh pengurus Gugus Sekolah, tanpa melibatkan guru.
2. Secara umum, proses pembelajaran dalam KKG belum optimal, bahkan cenderung pasif karena dalam pelaksanaan KKG tidak ada sesuatu yang baru/inovatif.
3. Tingkat kedisiplinan guru dalam mengikuti KKG belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Sebagian besar, guru datang ke SD Inti lebih lambat dari jadwal dimulainya pelaksanaan KKG. Hal tersebut menyebabkan pelaksanaan KKG tidak dapat mencapai tujuan secara optimal.
4. Secara akademis, para pemandu KKG di Gugus Inti I Cabang Dinas P dan K Kaliwungu sudah mumpuni. Namun, secara aktivitas kemampuan para tutor dalam mengelola proses pembelajaran dalam KKG kurang kreatif dalam mengintegrasikan kemampuan yang dimiliki secara komprehensif. Hal tersebut ditandai adanya kepasifan peserta KKG, dan penampilan tutor ketika mempresentasikan materi kurang mampu mengemas dengan variasi metode dan media pembelajaran.
5. Secara umum, interaksi yang terjadi berlangsung searah, di mana tutor/pemandu (komunikator) menyampaikan informasi/pesan sedangkan guru sebagai peserta KKG (komunikan) menjadi penerima pesan, tanpa terjadi umpan balik secara integratif.

0 komentar:

Post a Comment